Bekas itu telah tertinggal, bekas itu telah terjiplak dalam buramnya kanvas putih. Tak bisa di hapus walaupun kugunakan dengan segala cara. Aku melihat ada arti dari perjalananku ini. setiap jejak telah kuhitung, setiap jejak telah melangkah liar begitu saja. Terbangun dari tidurku dan setengah tersadar dalam alam nyata, ku melihat sesuatu yang nyata tapi ilusi semata, kucoba meraih itu dan telah kudapat, semakin kugenggam tapi semakin sakit terasa, ku coba untuk perlahan melepaskannya tapi tak bisa. Aku lebih memilih menggemgam itu kembali dan terus kembali.
Jejakku kembali menerjang pemahaman yang tak kumengerti. Terbisik dalam hati dalam dan dalam, "apakah aku harus iba akan hal itu?", "apakah aku harus menolongnya?". Tanpa ragu aku menolong tanpa mengharapkan imbalan atau apapun itu, aku hanya ikhlas menolong tanpa mengharapkan balasan apapun. karena aku percaya, balasan yang akan kudapat akan datang tanpa kusadari.
Malam akan menjelang, tapi aku terus melangkahkan jejakku dan di sudut kiri aku terhempas. Terdiam kaku tak bergerak, apa yang terjadi denganku? mengapa tiba tiba sebuah kayu besar menghantamku secara tiba tiba, aku tak sempat menghindar dan aku tak bisa mengelak dari hantamannya. Kumelihat tubuhku, aku melihat dari ujung rambut sampai keujung kuku di ujung jari kakiku, aku tak melihat luka yang berarti, yang aku lihat hanya potongan potongan hati berserakan tersebar liar di jalanan, aku memungutinya dan aku mencoba bertanya apakah ini salahku, atau ini salah kayu besar itu? atau ini balasan yang aku terima dari keikhlasanku tadi? tanpa kusadari aku telah tertolong dan aku terselamatkan.
Melangkah tertatih aku meraihnya, kebahagiaan yang kurasa masa itu sangatlah komplit, semua bisa kuraih dengan mudah, ibarat botol minuman yang terisi penuh dengan air manis didalamnya. Kumerasakan nikmatnya pabila kuteguk dengan perlahan. Mungkin karena kecerobohan diriku dan lemahnya pertahanan diri, sehingga kini air didalam botol itu terbuang dengan sia sia, aku tak bisa meminumnya. aku hanya bisa melihat air itu terbuang percuma, air itu mengalir dan semakin mengalir. kini diriku melangkah membuat jejak perlahan tertatih untuk meraihnya kembali.
Jejakku tak percuma kutapakkan, jejakku tak lekang oleh zaman yang kian berevolusi dengan segala bentuknya. Jejakku tersusun rapi di rak perjalanan yang akan segera ku ukir kembali. Jejakku siap melangkah kemanapun aku akan pergi, jejakku tlah ku tata dengan perasaan hati dan cinta, dan diujung jejakku kelak aku akan bahagia bersama semua langkah.
0 komentar:
Posting Komentar