MENILAI BAHAGIA
About Us
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros. Aliquam pharetra. Nulla in tellus eget odio sagittis blandit. Maecenas at nisl. Nullam lorem mi, eleifend a, fringilla vel, semper at, ligula. Mauris eu wisi. Ut ante dui, aliquet nec, congue non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris. Duis sed massa id mauris pretium venenatis. Suspendisse cursus velit vel ligula. Mauris elit.....read more
Minggu, 10 Oktober 2010
HAPPINES
MENILAI BAHAGIA
Hidup itu penuh perjuangan bung! Jangan patah semangat dan jangan pantang menyerah, lanjutkan apa yang kamu bisa lakukan dan lakukan apa yang bisa kamu kerjakan. Setiap manusia telah memiliki garis kehidupannya masing masing. Tinggal bagaimana caranya manusia itu mengatur dan merencanakan garis itu dan kemana dia akan mengarah.
Tujuan hidupku adalah bahagia dan tidak ada satu orang pun yang dapat menghalangi diriku untuk membuatku bahagia. Karena hidup ini Cuma satu kali, dan tak ada kehidupan untuk kedua kalinya. Dan janganlah kau sekali kali menghalangi kebahagiaan orang lain hanya demi mengagungkan keegoanmu semata. Karena kebahagiaan orang lain adalah bahagia mereka dan apabila aku melihat orang lain bahagia, maka aku akan bahagia bersamanya juga. Aku ingin membahagiakan semua orang yang bisa aku bahagiakan, walaupun itu sedikit naïf kelihatannya. Tapi itulah motivasi hidupku. Saat ini begitu banyak bahagia yang kudapat, walaupun bahagia itu masih semu yang kuraih, tapi aku mensyukurinya.
Kita melihat begitu banyak orang diluar sana yang ingin hidup lebih layak dan merasakan bahagia. Tapi tahukah kita? Hanya dengan melihat kondisi dan melihat dengan mata telanjang. Apakah kita tahu dan apakah kita bisa menilai mereka itu bahagia atau tidak?
Kisah pertama. Ada seorang perempuan yang tinggal di sebuah rumah kecil yang berdindingkan tepas dan beralaskan tanah. Bisa di bilang lebih mirip dengan kandang ayam. Mereka hanya hidup berdua dirumah itu, anak itu berumur 8 tahun, dan perempuan itu hanya dapat tersenyum tatkala dia mengingat suaminya yang telah di panggil oleh sang pencipta 1 tahun yang lalu. Dia merelakan kepergian suaminya, karena perempuan itu berpikir semua mahkluk hidup yang di ciptakanNya, maka akan kembali padaNya pula, tiada satupun manusia di muka bumi ini yang dapat menghindarinya. Tak ada manusia yang bisa hidup abadi.
Keseharian keluarga ini sangat bersahaja, untuk makan sehari harinya saja mereka berdua berjuang bersama, mencari barang bekas dari satu tong sampah ke tong sampah yang lain. Dan dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Tidak bisa dibayangkan sebelumnya disaat suaminya masih hidup dahulu. Minimal mereka berdua tidak perlu susah payah mencari nafkah untuk kebutuhan mereka, paling tidak ada sesosok ayah dan sesosok suami yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan hidup mereka sekeluarga.
Dahulu suami perempuan itu bekerja sebagai tukang bangunan, walaupun hasilnya tak seberapa, tapi itu lebih dari cukup untuk memberi makan anak isterinya dan menyekolahkan satu anak perempuannya. Mereka hidup bahagia, walaupun nyatanya mereka tidak punya apapun. Keluarga itu selalu bersyukur dan tersenyum tatkala suatu saat mereka tidak bisa makan, dan mereka hanya dapat merasakan nikmatnya aroma masakan dari warung nasi di seberang jalan rumah mereka. Tapi mereka tetap mensyukurinya dan mereka bahagia.
Dan disaat pempuan itu kehilangan suaminya. Dan kehidupan mereka nyata nyatanya tidak bahagia. Dan mereka berdua harus bertahan hidup untuk memenuhi kebutuhannya. Dan anak itu harus putus sekolah demi membantu orang tuanya mencari nafkah. Begitu miris kenyataannya. Mereka tidak mau meminta apalagi mengemis di pinggir jalan, seperti yang bisa kita lihat pada masa sekarang ini. Prinsip hidup perempuan itu adalah lebih baik memberi dari pada meminta, lebih baik menolong dari pada di tolong, selagi dia masih mampu dan dia masih kuat dan masih diberi kesehatan serta masih di perbolehkan bernafas di bumi ini oleh TuhanNya. Serta tak berhenti berusaha dan berikhtiar , maka niscaya Tuhan pasti mendengarkan doa dan pinta hambaNya.
Tuhan itu tidak buta, Tuhan itu selalu mendengarkan dan melihat segala gerak gerik yang kita lakukan di dunia ini, tak sedetikpun luput dari pengawasannya. Dan apa kenyataan sekarang? Kehidupan mereka ternyata berbalik 180 derajat. Perjuangan mereka membuahkan hasil. Walaupun tidak seberhasil pengusaha besar di negeri ini. Tapi mereka bahagia dan tetap memandang kedepan, dan sesekali memandang kebelakang, agar mereka tidak sombong dan agar mereka tidak lupa dari mana mereka berasal.
Kisah kedua. Seorang pria berpakaian rapi berdasi, kendaraanya mobil keluaran terbaru, rumahnya bak istana kerajaan yang megah. Dia juga memiliki perusahaan penerbangan yang cukup berkembang di Indonesia, intinya hidupnya bergelimpangan kemewahan dan harta. Tak pernah sedikitpun ia melihat kebawah, yang ada dalam otaknya hanyalah ingin, ingin dan ingin lebih baik terus. Itulah salah satu sifat manusia yang tak pernah puas.
Tapi apakah kita tau, Mereka itu bahagia atau tidak? Anak pria itu hanya bisa menggerutu tiap hari, tatkala orang tuanya tak pernah ada untuk dirinya, dan bahkan bertemu saja mereka tak bisa. Yang bisa diberikan orang tuanya hanyalah uang uang dan uang. Uang bukan segalanya bung! Percayalah, kalau kau berpikir segalanya dapat diatur dengan uang, itu salah! Atau kau berpikir uang dapat membeli kebahagiaan, itu salah… sifatnya hanya sesaat. Walaupun kau bilang hartamu takkan habis tujuh turunan. Tetapi itu semua tak semata mata bahagia, tapi itu hanya tampak dalam fanamu saja.
Suatu ketika perusahaan pria itu mengalami kebangkrutan, tak ada satu orangpun yang berniat membantu pria itu. Semua hartanya habis terjual. Dan pria itu sempat frustasi dan hampir mengakhiri hidupnya begitu juga dengan isterinya. Tapi tak begitu dengan anaknya. Anaknya mendukung dan memberi motivasi kepada kedua orang tuanya. Dan pada akhirnya hidup mereka bahagia dalam segala kekurangan yang mereka miliki dan pria itu baru merasakan inilah kebahagiaannya selama ini yaitu kebahagiaan dari hati. Dan ia pun tak patah semangat untuk kembali membangun hidupnya bersama keluarganya.
Dari kisah diatas maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwasanya jangan melihat orang hanya dari luarnya saja. Dan jangan sekali kali kita mengukur kebahagiaan seseorang itu hanya dari luarnya saja. Karena sesungguhnya kebahagiaan yang berasal dari hatilah yang lebih nyata dan lebih abadi di bandingkan kebahagiaan fana. Semua berlandaskan dari hati, kalau hati merasa bahagia pastilah hidup kita akan bahagia. Percayalah!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar