Relung II
Kotak Cerita
Sepertinya aku sudah terlalu jauh. Aku sudah seperti menjadi sebuah kotak kecil yang menyimpan banyak hal dan menyimpan banyak rahasia di dalamnya, dan apabila kotak itu ku buka dan ku sebar luaskan maka akan fatal dan kacau akibatnya. Tapi biarlah aku tetap menjadi sebuah kotak yang tetap menyimpan semua cerita dan rahasia yang kalian punya. Karena aku tahu dan aku sadar karena kalian ada untukku dan kalian pernah menjadi bagian dalam hidupku, walaupun kutahu apa yang sedang kuhadapi dan apa yang sedang kujalani bersama kalian.
Bermula waktu itu, aku sudah jenuh dan capek atas diriku, mengapa aku sudah 2 bulan di kota ini, di kota yang orang sebut Kota Kembang, Varis Van Java dan segudang sebutan lainnya. Masih belum juga mendapatkan pekerjaan, aku bingung dan terus berpikir apa yang harus ku perbuat.
Aku menekan nomer rumah di Medan 061. 45593562 dan langsung terhubung dengan mama disana.
aku: "Ma....! aku pulang aja dech ke rumah.......lebih enak
disana!"
Tanpa menjawab salam dari mamaku aku langsung nyerocos.
Mamah: "Memangnya kenapa? nggak betah?, ato kamu ada buat salah
di rumah paman udin?"
Aku: "Nggak ada mah!" cuma sebel aja disini, nggak betah!
abisnya,katanya aku mau di kasi kerjaan ama paman,
tapi buktinya mana? dah lebih dari 2 bulan aku disini,
tapi kenyataannya beda!"
Mamah: "Ya sabar, mungkin memang belum ada, kalau abang mau
cepat kerja, cari aja sendiri....mungkin rejekinya
bisa dapat..."
Akhirnya aku mendengarkan usulan mamaku. Sebenarnya aku sudah dicarikan kerjaan ama paman, yang pertama aku ditawarin kerjaan di bengkel perusahaan motor terbesar saat ini, tapi yang menjadi penghalang karena fisikku yang terlalu imoet dan kurang berdaging, walaupun aku dibilang orang manis...hehehehe "MODE JAIM ON". Dan juga jurusan aku IPS bukan IPA, sebenarnya nggak menjadi masalah kalo saja pamanku bisa menjamin aku pandai dan bisa bekerja. Tapi pamanku tidak memberikan aku pekerjaan itu. Sebel toh, tapi apa mau dikata.....jadinya tak bisa berkata kata.
Tadinya aku ditawarin kerja di hotel pamanku, pada saat dia mudik ke Medan, tapi alangkah malangnya nasibku, sesampainya aku di Bandung ternyata apa yang diomongin tidak sama dengan kenyataannya, hanya manis dimulut, bual belaka!. Alasannya klasik, mulai dari aku belum punya pengalaman di hotel Lah! Takut aku buat masalah dan menjelekkan citra pamanku yang katanya bos besar itulah! pokoknya banyak lagi, tapi yang lebih membuatku kesal, mengapa dia tidak langsung bicara 4 mata di depanku, mengapa harus ke yang lain dan mengapa tidak ngomong ke Mama. Kenapa ya? tapi aku tidak terpuruk sampai disitu, berkat pencerahan dari mamah melalui telp, maka aku langsung melaksanakan titahnya.Sebenarnya pamanku baik hati, tapi kalo masalah yang satu ini, susah dimengerti.
* * * * *
Paman Udin: "Kamu mau kemana? Kok pagi gini udah rapih aja?"
Aku: "Mau Cari kerja di Bandung, sebel pak ngganggur
terus........nggak enak ama ibu endang (isteri paman),
tiap hari kerjaannya makan tidur mulu..bisa - bisa
tambah bantet aku entar."
Paman Udin: "Yaudah..... kalau gitu, kamu ikut aja
ama paman kekantor.... tinggal kamu pilih aja
dimana kamu mau turun nantinya."
Akhirnya aku tidak menolak ajakan paman kepadaku, dan kami pun langsung cabut dari kediamannya. Aku meminta turun di Jl. Cicendo, dari situ aku berjalan menelusuri padatnya suasana kota Bandung, yang kulihat sepanjang jalan hanya bangunan Rumah Sakit Mata Cicendo, gedung pertemuan dan rumah dinas gubernur Jabar.
Pamanku itu sebenarnya tipikal orang yang baik, dan ramah, karena dia adalah seorang bos di kantornya, postur tubuhnya sih boleh di bilang cakep untuk ukuran om om, dengan kepala bak profesor nggak tau tu rambutnya sebahagian ilang entah kemana? tapi yang aku heran ampe sekarang, kenapa sih dia nggak mau memasukkan aku ke hotel tempat dia bernaung? sudah ah! EGP..
* * * * *
To be Countinued to relung III